Aku, Rian, adalah seorang karyawan kantor biasa di sebuah perusahaan kecil di pinggiran Jakarta. Hidupku monoton: bangun pagi, naik angkot ke kantor, kerja dari jam 8 sampai 5, pulang, makan malam sederhana, lalu tidur. Tak ada mobil mewah, tak ada liburan ke luar negeri. Hanya apartemen kecil yang aku sewa bersama teman sekolahku dulu, Dita. Kami sudah berteman sejak SMA, dan sekarang berbagi tempat tinggal untuk hemat biaya. Dita bekerja sebagai admin di toko online, gajinya pas-pasan seperti aku. Kami sering bercanda soal hidup yang "biasa-biasa aja", tapi itu yang membuat kami nyaman.
Suatu malam, hujan deras mengguyur kota. Aku pulang telat karena lembur, basah kuyup. Dita sudah di rumah, duduk di sofa kecil kami yang sudah agak usang, sambil nonton serial di laptop murah. "Eh, Ri, hujan deras banget ya? Cepet ganti baju, nanti sakit," katanya sambil tersenyum. Aku mengangguk, masuk ke kamar mandi kecil kami yang cuma ada shower sederhana. Saat mandi, aku mikir betapa nyamannya punya teman seperti Dita. Kami tak pernah ribet, saling bantu bayar tagihan listrik atau beli mie instan kalau lagi tanggal tua.
Setelah ganti baju kaos oblong dan celana pendek, aku keluar dan duduk di sebelahnya. "Mau nonton bareng?" tanyaku. Dia menggeser tubuhnya, memberi ruang. Kami berdua menyandar di sofa, kaki kami saling bersentuhan tanpa sengaja. Hujan di luar semakin deras, suara petir sesekali bergemuruh. Listrik sempat mati sebentar, tapi nyala lagi. "Takut gak, Dit?" godaku. Dia tertawa, "Takut apa? Kita kan biasa gini."
Entah kenapa malam itu terasa berbeda. Mungkin karena dingin hujan, atau karena kami berdua sendirian di apartemen kecil ini. Dita memakai tank top tipis dan celana pendek rumah, rambutnya digerai basah setelah mandi tadi. Aku mencium aroma sabun murah yang biasa kami pakai, campur dengan bau tubuhnya yang segar. Kami mulai ngobrol ngalor-ngidul, dari kerjaan sampai kenangan SMA. "Ingat gak dulu kita sering kabur kelas bareng?" katanya sambil tertawa. Aku mengangguk, mata tak sengaja melirik ke dadanya yang naik-turun saat tertawa. Bentuknya bulat, terlihat samar di balik kain tipis.
Tiba-tiba, Dita memeluk lenganku, "Dingin nih, Ri. Peluk dong." Aku tertawa, tapi hati berdegup kencang. Aku peluk dia pelan, tubuhnya hangat menempel ke tubuhku. Kami diam sebentar, hanya suara hujan yang terdengar. Lalu, dia angkat wajahnya, mata kami bertemu. "Ri... kamu pernah mikir gak, kalau kita lebih dari teman?" bisiknya pelan. Aku terkejut, tapi anehnya, aku juga pernah mikir itu. "Pernah, Dit. Tapi takut rusak pertemanan kita."
Dia tersenyum, lalu mendekatkan bibirnya ke bibirku. Ciuman pertama itu lembut, seperti ciuman teman yang berubah jadi sesuatu yang lebih. Bibirnya basah, hangat, dan aku balas dengan pelan. Lidah kami saling menyentuh, menari pelan di mulut satu sama lain. Aku rasakan napasnya yang mulai cepat, tangannya memeluk leherku lebih erat. Kami berciuman lama, seperti melepaskan semua yang selama ini dipendam. Tangan aku mulai menyusuri punggungnya, merasakan kulit halus di balik tank top.
Dita menarikku berdiri, kami berpindah ke kamar kecil kami yang cuma ada kasur single dan lemari kayu tua. Kami jatuh ke kasur, tubuh saling menindih. Aku angkat tank top-nya pelan, memperlihatkan payudaranya yang putih, putingnya sudah mengeras karena dingin dan gairah. Aku cium lehernya, turun ke dada. Mulutku menyentuh puting kirinya, mengisap pelan sambil lidah bermain-main. "Ahh... Ri..." desahnya pelan, tangannya meremas rambutku. Aku rasakan tubuhnya menggeliat, pinggulnya bergoyang pelan mencari gesekan.
Aku turunkan celana pendeknya, memperlihatkan celana dalam katun sederhana yang sudah basah. Aku cium perutnya yang rata, turun ke selangkangan. Bau kewanitaannya membuatku semakin bergairah. Aku geser celana dalamnya ke samping, lidahku menyentuh bibir vaginanya yang licin. Rasanya manis-asin, hangat. Aku jilat pelan dari bawah ke atas, fokus ke klitorisnya yang sudah menonjol. Dita mengerang lebih keras, "Ri... enak banget... jangan berhenti..." Pinggulnya naik-turun, menekan wajahku lebih dalam. Aku masukkan satu jari ke dalam vaginanya yang ketat, merasakan dindingnya yang basah dan hangat. Jari ku gerakkan maju-mundur, sambil lidah terus menari di klitoris.
Dia orgasme pertama kali dengan tubuh bergetar, tangannya mencengkeram seprai kusut. "Ri... aku keluar..." jeritnya pelan. Aku naik lagi, cium bibirnya sambil tangan dia meraih celana pendekku. Dia tarik turun, memperlihatkan penisku yang sudah tegang keras. Panjangnya biasa saja, tapi dia pegang dengan tangan lembut, mengocok pelan. "Gede juga ya, Ri," godanya sambil tersenyum. Mulutnya turun, menjilat ujungnya, lalu mengisap pelan. Sensasinya luar biasa, mulutnya hangat, lidahnya berputar-putar di kepala penis. Aku pegang rambutnya, dorong pelan agar lebih dalam. "Dit... ahh... enak..."
Setelah beberapa menit, kami tak tahan lagi. Dita rebahan, kakinya terbuka lebar. Aku posisikan penisku di depan vaginanya, gosok pelan ke bibirnya yang basah. "Masuk pelan ya, Ri," bisiknya. Aku dorong pelan, merasakan kepala penis masuk ke dalam yang ketat dan licin. "Ahh... ketat banget, Dit..." desahku. Aku dorong lebih dalam, sampai seluruhnya masuk. Kami diam sebentar, merasakan satu sama lain. Lalu aku mulai gerakkan pinggul, maju-mundur pelan tapi dalam.
Setiap dorongan, aku rasakan dinding vaginanya memijat penisku, basah dan hangat. Dita mengerang, "Lebih cepat, Ri... ahh... enak..." Aku percepat, suara benturan tubuh kami bercampur dengan desahan. Payudaranya bergoyang naik-turun, aku remas sambil terus pompa. Kami ganti posisi, Dita naik ke atas. Dia goyang pinggulnya, naik-turun di atas penisku. Aku lihat wajahnya yang merah, mata setengah tertutup, mulut terbuka mengerang. Tangan aku pegang pinggulnya, bantu dorong lebih dalam. "Ri... aku mau keluar lagi..." katanya sambil goyang lebih cepat.
Orgasme keduanya datang, vaginanya mengejang memijat penisku kuat-kuat. Itu membuatku tak tahan, aku dorong dari bawah beberapa kali, lalu keluar di dalamnya. "Dit... aku keluar..." desahku sambil memeluknya erat. Cairan hangat memenuhi di dalam, kami berdua terengah-engah. Kami rebahan saling peluk, tubuh basah keringat, di kasur kecil yang sekarang berantakan.
Pagi harinya, kami bangun seperti biasa. Dita buat kopi instan, aku goreng telur. "Malam tadi... enak ya?" katanya sambil tersenyum malu. Aku angguk, "Iya, tapi kita tetap teman kan?" Dia peluk aku, "Lebih dari teman sekarang. Tapi hidup kita tetap biasa-biasa aja." Kami tertawa, tahu bahwa ini awal dari sesuatu yang baru, di kehidupan sederhana kami. Hujan sudah reda, tapi gairah itu masih tersisa.
