Aku kerja sebagai driver ojek online di daerah pinggiran Depok. Tiap hari bolak-balik antar penumpang, kadang sampai malam. Rumahku cuma kontrakan kecil di gang sempit, dekat pasar tradisional. Di gang yang sama, hampir setiap sore aku sering ketemu Mbak Rina.
Mbak Rina orangnya ramah, selalu senyum kalau lewat. Dia berhijab lebar, biasanya warna soft seperti krem atau abu-abu muda, pakai gamis longgar yang menutupi tubuhnya dengan rapi. Suaminya kerja shift malam di pabrik, jadi Mbak Rina yang sering keluar belanja atau antar anaknya ke TPA sore-sore. Anaknya, seorang perempuan umur 5 tahun bernama Aisyah, selalu digandeng tangan kanan Mbak Rina.
Awalnya kami cuma saling sapa. Lama-lama jadi ngobrol sebentar. Kadang dia tanya, “Mas, hari ini rame gak?” Aku jawab biasa, “Lumayan, Mbak. Tapi capek juga.” Dia tertawa kecil, suaranya lembut. Kadang aku bantu angkat belanjaan kalau tas kreseknya penuh, dia bilang terima kasih sambil senyum malu-malu.
Suatu sore hujan deras tiba-tiba datang. Pas aku baru selesai antar order terakhir, langit langsung gelap. Aku buru-buru masuk gang, tapi hujan makin lebat. Di depan rumah Mbak Rina, aku lihat dia berdiri di teras kecil sambil memeluk Aisyah yang sudah basah kuyup. Mereka kelihatan kedinginan.
“Mbak, masuk dulu ke kontrakan saya yuk, hujan gede banget,” kataku sambil membuka payung kecil yang aku bawa.
Mbak Rina ragu sebentar, tapi Aisyah sudah menggigil. Akhirnya dia mengangguk. Kami bertiga masuk ke kontrakan saya yang sempit. Cuma ada ruang tamu kecil yang langsung nyambung ke kamar tidur dan dapur mini. Kasur spring bed bekas, meja kecil, lemari plastik, dan karpet tipis yang sudah agak lusuh.
Aku kasih handuk kecil buat mereka. Aisyah cepat ganti baju, lalu aku kasih cemilan biskuit sisa kemarin. Dia senang, langsung duduk main boneka di karpet. Mbak Rina duduk di pinggir kasur, masih memakai hijabnya yang agak basah di ujung.
“Maaf ya Mas, numpang sebentar. Suami saya masih kerja, pulangnya jam 10 malam,” katanya pelan.
“Gak apa-apa Mbak, santai aja. Panas teh?” tanyaku.
Dia mengangguk. Aku buat dua gelas teh celup panas, kasih gula aren yang aku simpan di toples plastik. Kami duduk berhadapan di lantai, minum teh sambil ditemani suara hujan deras di atap seng.
Obrolan mengalir biasa saja dulu. Tentang anaknya yang mulai bisa baca huruf, tentang harga beras yang naik, tentang capeknya nyetir motor seharian. Tapi lama-lama suasana berubah. Hujan tak kunjung reda, Aisyah sudah tertidur di karpet dengan selimut tipis.
Mbak Rina menatap ke luar jendela, lalu tiba-tiba berkata pelan, “Kadang saya merasa… sendiri banget di rumah. Suami pulang cuma tidur, bangun kerja lagi. Jarang ngobrol.”
Aku diam, tak tahu harus jawab apa. Tapi matanya menatapku lama. Ada sesuatu di situ. Kerinduan, mungkin. Atau hanya kelelahan.
“Mas… boleh saya deket sebentar?” tanyanya hampir tak terdengar.
Aku mengangguk pelan. Dia geser mendekat, duduk di sampingku di pinggir kasur. Bahunya menyentuh bahuku. Aroma minyak wangi yang biasa dipakai ibu-ibu, campur bau hujan dan sabun colek. Aku merasakan napasnya yang mulai agak cepat.
Aku angkat tangan perlahan, menyentuh punggung tangannya. Dingin. Dia tidak menarik tangan. Malah membalikkan telapak tangannya, membiarkan jari-jari kami saling bertaut.
Kami diam lama. Hanya suara hujan dan dengkuran halus Aisyah.
Lalu Mbak Rina memalingkan wajahnya ke arahku. Matanya berkaca-kaca. Aku mendekatkan wajahku pelan. Bibir kami bertemu. Ciuman pertama itu sangat pelan, hampir seperti takut. Bibirnya lembut, sedikit dingin karena hujan tadi. Aku rasakan getaran kecil di tubuhnya.
Ciuman itu lama-lama jadi lebih dalam. Lidah kami bertemu, saling menjelajah dengan hati-hati. Tanganku naik ke punggungnya, merasakan kain gamis yang agak lembab. Dia memeluk leherku, napasnya tersengal di sela ciuman.
Aku tarik gamisnya pelan ke atas. Dia mengangkat tangan, membiarkan kain itu lepas dari tubuhnya. Di baliknya hanya ada bra hitam sederhana dan celana dalam warna senada. Kulitnya putih bersih, ada bekas stretch mark tipis di perut bagian bawah — tanda pernah melahirkan.
Aku cium lehernya, turun ke tulang selangka. Tanganku meraba bra-nya, membukakan kait belakang. Payudaranya terbebas. Sedang, tapi kencang, putingnya cokelat muda sudah mengeras. Aku ambil satu ke mulutku, mengisap pelan sambil lidah berputar di sekitar puting. Mbak Rina mendesah pelan, tangannya menekan kepalaku ke dadanya.
“Mas… pelan-pelan… Aisyah di situ…” bisiknya.
Aku angguk, lalu membaringkannya pelan ke kasur. Aku turunkan celana dalamnya. Bulu kemaluannya rapi, dipangkas pendek. Bibir vaginanya sudah basah, mengkilap di bawah lampu temaram. Aku membuka pahanya perlahan, mencium paha dalamnya dulu, naik perlahan sampai ke selangkangan.
Lidahku menyentuh bibir vaginanya. Rasanya asin-manis, hangat. Aku jilat dari bawah ke atas, fokus ke klitoris yang sudah membengkak kecil. Mbak Rina menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan suara. Tangannya meremas seprai, pinggulnya naik-turun pelan mengikuti irama lidahku.
Aku masukkan satu jari, lalu dua. Dinding dalamnya hangat, licin, dan berdenyut. Aku gerakkan jari dengan ritme stabil, sambil lidah terus menari di klitorisnya. Tak lama dia mengejang, tubuhnya melengkung, tangannya menutup mulut sendiri. Orgasme datang pelan tapi dalam. Cairannya mengalir ke jari-jariku.
Setelah napasnya agak tenang, dia bangun, menatapku dengan mata penuh gairah. Tangannya meraih celanaku, menurunkan resleting. Penisku sudah keras sekali. Dia pegang batangnya, mengocok pelan sambil menatap mataku.
“Mas… aku kangen disentuh…” bisiknya.
Dia membungkuk, menjilat ujung penisku dulu, lalu memasukkannya ke mulut. Hangat. Lidahnya bergerak lincah, kadang mengisap kuat, kadang menjilat sisi-sisinya. Aku pegang rambutnya yang masih tertutup hijab, hanya mengelus bagian belakang lehernya.
Tak lama aku tarik dia naik. Aku membaringkannya lagi, membuka pahanya lebar. Aku gesekkan kepala penisku ke bibir vaginanya dulu, menggoda. Lalu aku dorong pelan. Masuknya terasa sangat ketat, hangat, dan basah sekali. Kami berdua mendesah bersamaan saat aku masuk sampai penuh.
Aku mulai gerak maju-mundur, pelan tapi dalam. Setiap dorongan, Mbak Rina mengeluarkan desahan kecil yang tertahan. Aku cium bibirnya lagi, menutupi suaranya. Tanganku meremas payudaranya, jempolku memilin putingnya.
“Lebih cepat, Mas… tapi pelan suaranya ya…” pintanya.
Aku percepat sedikit, tapi tetap berusaha tidak terlalu keras agar kasur tidak terlalu berderit. Kami ganti posisi, dia membalikkan badan, posisi doggy style. Aku masuk dari belakang, tanganku memegang pinggulnya. Posisi ini bikin aku masuk lebih dalam. Mbak Rina menunduk, wajahnya tertutup rambut dan hijab, tangannya mencengkeram bantal untuk meredam suara.
Aku rasakan vaginanya mengejang lagi, kali ini lebih kuat. Dia orgasme sambil menekan wajah ke bantal, tubuhnya bergetar hebat. Sensasi itu membuatku tak tahan. Aku tarik penisku keluar tepat waktu, mengocok cepat di atas punggungnya. Cairan hangat muncrat beberapa kali ke kulit punggung dan pinggulnya yang putih.
Kami ambruk berbarengan di kasur, napas tersengal. Hujan di luar sudah mulai reda. Mbak Rina membalikkan badan, menatapku dengan senyum lelah tapi puas.
“Mas… ini salah, tapi… aku tidak menyesal,” katanya pelan.
Aku hanya mengangguk, lalu memeluknya erat. Kami diam beberapa saat, mendengarkan napas Aisyah yang masih teratur di karpet.
Setelah itu dia bangun pelan, membersihkan diri di kamar mandi kecilku. Aku bantu bangunkan Aisyah yang sudah ngantuk berat. Hujan sudah berhenti. Mbak Rina memakai gamisnya lagi, merapikan hijab, lalu menggendong Aisyah.
“Terima kasih ya Mas… untuk semuanya,” bisiknya di depan pintu.
Aku cuma tersenyum. “Hati-hati Mbak.”
Dia berjalan pulang ke rumahnya yang hanya beda beberapa rumah. Aku berdiri di teras, melihat punggungnya menghilang di ujung gang.
Malam itu aku tidur dengan perasaan campur aduk. Tahu bahwa besok sore, kami pasti akan ketemu lagi di gang yang sama. Mungkin cuma saling sapa seperti biasa. Mungkin juga… ada tatapan yang lebih dalam.
Hujan sore itu mengubah banyak hal, tapi kehidupan kami tetap sama: sederhana, biasa, dan penuh rahasia kecil.
