Aku, Dedi, kerja sebagai tukang ojek pangkalan di depan pasar pagi. Tiap hari mulai dari subuh sampai sore, bawa motor butut yang kadang mogok kalau kehujanan. Tempat mangkalku persis di seberang warung kopi kecil milik Mbak Sari — warung sederhana, cuma ada empat meja plastik, kursi besi, dan tenda terpal biru yang sudah pudar warnanya.
Mbak Sari orangnya pendiam tapi ramah. Hijabnya selalu rapi, biasanya model segi empat polos warna pastel, dipadukan dengan baju kurung atau gamis sederhana yang longgar. Dia sudah punya anak satu, cowok umur tujuh tahun bernama Rafi, yang tiap pagi sebelum sekolah suka duduk di bangku warung sambil ngerjain PR sambil ngunyah roti tawar. Suaminya kerja di proyek bangunan di luar kota, pulang cuma dua minggu sekali.
Aku pelanggan tetap. Tiap pagi pesan kopi susu tubruk satu gelas plastik, kadang tambah pisang goreng dua biji kalau lagi ada duit lebih. Mbak Sari selalu ingat pesananku, bahkan kadang kasih tambahan gula sedikit lebih banyak karena tahu aku suka manis.
Awalnya cuma obrolan biasa. “Pagi, Mas Dedi. Capek ya semalem?” atau “Hari ini hujan lagi, hati-hati di jalan.” Lama-lama jadi lebih panjang. Dia cerita soal Rafi yang susah diajak belajar, soal tagihan listrik yang naik, soal suami yang jarang pulang. Aku cuma dengar, sesekali kasih saran receh seperti “Sabar ya Mbak, anak kecil gitu emang.”
Suatu Sabtu pagi, pasar sepi karena hujan gerimis dari subuh. Rafi sudah berangkat les tambahan sama temen sekelasnya. Warung cuma ada aku dan Mbak Sari. Dia lagi nyapu lantai, aku duduk di meja pojok sambil nyeruput kopi yang masih mengepul.
“Hari ini sepi banget ya Mbak,” kataku.
“Iya Mas, untung Mas Dedi masih datang. Kalau enggak, sepi beneran,” jawabnya sambil tersenyum kecil.
Dia duduk di kursi seberangku, sesekali ngelap tangan ke celemek. Kami ngobrol lebih lama dari biasanya. Entah kenapa suasana terasa beda hari itu. Mungkin karena gerimis yang bikin udara dingin, mungkin karena kami berdua sama-sama capek dengan rutinitas yang gitu-gitu aja.
Tiba-tiba Mbak Sari diam, menatap gelas kopiku yang sudah tinggal setengah. “Mas Dedi… pernah ngerasa capek sama hidup yang begini terus gak?”
Aku mengangguk pelan. “Pernah. Tiap hari rasanya muter di tempat.”
Dia menarik napas panjang. “Aku juga. Kadang pengen… merasain sesuatu yang beda, walau cuma sebentar.”
Kami saling pandang lama. Tidak ada kata-kata lagi. Aku geser tanganku pelan di atas meja, menyentuh ujung jarinya. Dia tidak menarik tangan. Malah membiarkan jari kami saling bertaut.
“Mbak… kalau mau, kita bisa ke belakang sebentar,” kataku pelan, hampir berbisik.
Dia mengangguk kecil, matanya menunduk. Kami berdiri. Mbak Sari menutup pintu warung, memasang tulisan “Tutup Sementara” di pintu, lalu menggandeng tanganku pelan menuju ruang belakang.
Ruang belakang warung cuma gudang kecil: tumpukan kardus bekas, beberapa karung beras, meja kayu tua, dan kasur lipat tipis yang biasa dipakai Mbak Sari istirahat kalau kelelahan. Ada jendela kecil yang ditutup gorden kain bekas, cahayanya temaram karena gerimis di luar.
Kami berdiri saling berhadapan. Aku angkat tangan, menyentuh pipinya pelan. Dia menutup mata. Aku mendekat, mencium bibirnya perlahan. Ciuman pertama itu lembut, penuh keraguan. Bibirnya hangat, ada rasa kopi dan gula aren yang masih tersisa.
Pelan-pelan ciuman jadi lebih dalam. Lidah kami bertemu, saling menjelajah dengan hati-hati. Tanganku turun ke pinggangnya, menarik tubuhnya lebih dekat. Aku rasakan detak jantungnya yang cepat di balik gamis.
Aku tarik gamisnya ke atas perlahan. Dia mengangkat tangan, membiarkan kain itu lepas. Di baliknya ada bra polos warna krem dan celana dalam senada. Kulitnya putih pucat, ada garis-garis halus di perut — bekas kehamilan Rafi. Aku cium lehernya, turun ke bahu, lalu ke dada. Aku buka kait bra-nya, payudaranya terbebas. Sedang tapi lembut, putingnya sudah mengeras karena udara dingin dan gairah.
Mulutku menangkap puting kirinya, mengisap pelan sambil lidah berputar kecil. Mbak Sari mendesah pelan, tangannya memeluk kepalaku, menekan lebih erat ke dadanya. “Mas… pelan ya… jangan keras-keras…”
Aku turunkan celana dalamnya. Bulu kemaluannya rapi, dipangkas pendek. Bibir vaginanya sudah basah, mengkilap samar di bawah cahaya redup. Aku membaringkannya pelan di kasur lipat. Dia membuka pahanya perlahan, memberi ruang.
Aku cium paha dalamnya dulu, naik perlahan sampai ke selangkangan. Lidahku menyentuh bibir vaginanya, menjilat pelan dari bawah ke atas. Rasanya hangat, sedikit asin, sangat menggairahkan. Aku fokus ke klitorisnya, menjilat dengan gerakan melingkar, kadang menekan lembut, kadang mengisap kecil.
Mbak Sari menggeliat pelan, tangannya menutup mulut sendiri supaya suaranya tidak keluar terlalu keras. “Ahh… Mas… enak sekali… terus…” Pinggulnya naik-turun mengikuti irama lidahku. Aku masukkan satu jari, lalu dua, merasakan dinding dalamnya yang licin dan berdenyut. Aku gerakkan jari dengan ritme stabil, sambil lidah terus memanjakan klitorisnya.
Tak lama tubuhnya menegang. Dia orgasme dengan napas tersengal, tangannya mencengkeram rambutku kuat-kuat, tapi tetap berusaha diam. Cairannya mengalir ke jari-jariku, hangat dan banyak.
Setelah napasnya agak tenang, dia bangun, menatapku dengan mata penuh hasrat. Tangannya meraih celanaku, membuka resleting. Penisku sudah tegang keras. Dia pegang batangnya, mengocok pelan sambil menatap wajahku.
“Aku kangen disentuh begini…” bisiknya.
Dia membungkuk, menjilat ujungnya dulu, lalu memasukkannya ke mulut. Hangat, lembut, lidahnya bergerak lincah. Kadang dia mengisap kuat, kadang menjilat sisi-sisinya sampai ke pangkal. Aku pegang pundaknya, menahan diri supaya tidak terlalu cepat keluar.
Aku tarik dia naik, membaringkannya lagi. Aku posisikan diri di atasnya, menggesekkan kepala penisku ke bibir vaginanya yang licin. Lalu aku dorong pelan. Masuknya terasa ketat sekali, hangat, dan sangat basah. Kami berdua mendesah pelan saat aku masuk sampai penuh.
Aku mulai gerak maju-mundur, pelan tapi dalam. Setiap dorongan, Mbak Sari mengeluarkan desahan kecil yang tertahan di tenggorokan. Aku cium bibirnya lagi, menutupi suaranya. Tanganku meremas payudaranya, jari-jariku memilin putingnya pelan.
“Mas… agak cepat… tapi jangan keras ya…” pintanya.
Aku percepat sedikit, tetap berusaha menjaga kasur lipat supaya tidak terlalu berderit. Kami ganti posisi beberapa kali: dia di atas, goyang pelan sambil tangannya bertumpu di dadaku; lalu posisi menyamping, aku memeluknya dari belakang sambil terus masuk dalam-dalam.
Akhirnya dia orgasme lagi, kali ini lebih kuat. Vaginanya mengejang kuat memijat penisku, tubuhnya bergetar hebat, wajahnya tertunduk ke bantal kecil. Sensasi itu membuatku tidak tahan lagi. Aku tarik penisku keluar tepat waktu, mengocok cepat di atas perut dan dadanya. Cairan hangat muncrat beberapa kali, membasahi kulitnya yang putih.
Kami terengah-engah berbarengan, diam beberapa saat sambil saling peluk. Gerimis di luar masih berlangsung, suara air menetes dari terpal terdengar samar.
Mbak Sari akhirnya bangun pelan, membersihkan diri dengan tisu basah yang ada di meja. Aku bantu merapikan kasur lipat. Dia memakai gamisnya lagi, memperbaiki hijab, lalu menatapku dengan senyum lelah tapi hangat.
“Mas… ini cuma sekali ya. Kita tetap seperti biasa di depan orang.”
Aku mengangguk. “Iya Mbak. Terima kasih… buat pagi ini.”
Dia keluar dulu, membuka warung lagi. Aku keluar beberapa menit kemudian, duduk di meja pojok seperti biasa, pesan kopi susu satu gelas lagi.
Sejak hari itu, setiap pagi kami tetap seperti biasa: aku pesan kopi, dia buat dengan senyum kecil, kadang tangan kami senggolan pelan saat dia menyerahkan gelas. Tidak ada yang tahu. Tidak ada yang curiga.
Hidup kami tetap sama: pasar pagi, gerimis, kopi tubruk, dan rahasia kecil yang hanya kami berdua simpan di antara hiruk-pikuk warung pinggir jalan.

.jpg)