Kelas Rahasia

0

Aku, Lina, adalah mahasiswa semester akhir di jurusan desain grafis. Kelas kami kecil, hanya sekitar 20 orang, dan itu membuat kami semua akrab. Tapi ada satu orang yang selalu menarik perhatianku: Rio. Dia cowok pendiam, pintar, dengan senyum yang bikin hati meleleh. Rambutnya hitam acak-acakan, matanya tajam, dan tubuhnya atletis dari hobi basketnya. Kami sering diskusi tugas bareng, ngopi di kantin, atau bahkan belajar malam-malam di perpustakaan. Bagi aku, dia cuma teman sekelas yang asyik. Sampai suatu hari, semuanya berubah.

Itu hari Jumat sore, setelah kelas terakhir. Hujan deras mengguyur kampus, dan aku lupa bawa payung. "Lina, lo mau nebeng gue?" tanya Rio sambil menyodorkan payungnya. Aku mengangguk, "Makasih ya, Ri." Kami berjalan bareng ke parkiran, tubuh kami saling dekat di bawah payung yang sempit. Aroma parfumnya yang segar bercampur bau hujan membuatku merasa aneh – hangat, nyaman. Sampai di mobilnya, dia bilang, "Lo kebasahan nih. Mampir dulu ke apartemen gue, ganti baju kering." Aku ragu sebentar, tapi hujan makin deras, jadi aku setuju.

Apartemen Rio sederhana, tapi nyaman. Dia kasih aku kaos oversized dan celana pendek miliknya. "Ganti di kamar mandi ya," katanya sambil nyengir. Saat aku ganti, aku lihat bayanganku di cermin – kaosnya longgar, tapi entah kenapa terasa seksi. Keluar dari kamar mandi, Rio sudah ganti baju santai, duduk di sofa dengan dua gelas kopi panas. "Hujan kayak gini enaknya ngobrol," katanya. Kami duduk dekat, ngobrolin tugas akhir, mimpi masa depan, dan tiba-tiba topik bergeser ke hubungan. "Lo lagi deket sama siapa sekarang?" tanyanya pelan. Aku geleng, "Single kok. Lo?" Dia tersenyum misterius, "Sama. Tapi gue suka sama seseorang di kelas kita."

Hati aku berdegup kencang. "Siapa?" tanyaku, suaraku agak bergetar. Dia menatapku dalam, tangannya menyentuh tanganku. "Lo, Lina." Sebelum aku bisa bereaksi, bibirnya sudah menyentuh bibirku. Ciuman itu lembut awalnya, tapi cepat jadi panas. Lidahnya menyusup, menari dengan lidahku, membuatku kehilangan kendali. Aku balas ciumannya, tanganku memeluk lehernya yang kuat. Rasanya seperti api yang menyala tiba-tiba, penuh gairah yang selama ini terpendam.

Rio angkat aku ke pangkuannya, tangannya menyusuri punggungku di bawah kaos. "Lo cantik banget, Lin," bisiknya di telingaku, napasnya hangat. Aku merasakan tonjolan di celananya, tegang menyentuh pahaku. Kami lepas pakaian satu per satu – kaosku terlempar, bra-ku dibuka dengan tangan ahlinya. Dadanya bidang, berotot, aku sentuh dengan jari-jari gemetar. Bibirnya turun ke leherku, mencium dan mengisap kulit sensitif di sana, meninggalkan jejak merah yang bikin aku mendesah. "Ahh... Rio..." Tangannya menyentuh payudaraku, memijat lembut, ibu jarinya menggosok puting yang sudah mengeras. Sensasinya seperti listrik, membuat vaginaku basah seketika.

Dia dorong aku telentang di sofa, turun ke dada. Mulutnya menangkap satu puting, mengisap kuat sambil lidahnya berputar-putar. Giginya menggigit ringan, bikin aku menggelinjang. "Enak, Ri... terus..." desahku. Tangannya turun lebih bawah, menyusuri perutku yang rata, lalu ke celana pendek. Dia selipkan tangan ke dalam celana dalamku, jarinya menemukan klitorisku yang licin. Dia gosok pelan dulu, lingkaran kecil yang bikin tubuhku bergetar. "Lo basah banget," katanya serak, mata penuh hasrat. Aku angkat pinggulku, mendorong jarinya lebih dalam. Dia masukkan satu jari ke vaginaku, lalu dua, gerak maju mundur sambil jempolnya tetap gosok klitoris. Ritmenya pas, menyentuh titik G-ku yang membuatku hampir gila. Orgasme pertama datang cepat, tubuhku kejang, cairanku membasahi tangannya. "Rio... aku keluar..." jeritku pelan.

Tapi dia tak berhenti. Dia tarik celanaku, sekarang aku telanjang di depannya. Matanya menelusuri tubuhku, penuh kekaguman. "Lo sempurna," gumamnya. Dia turun, bibirnya menyentuh selangkanganku. Lidahnya menjilat vaginaku dari bawah ke atas, fokus di klitoris. Rasanya luar biasa – hangat, basah, dan tekanan yang tepat. Dia hisap klitorisku seperti buah matang, jarinya kembali masuk, tiga sekarang, meregangkanku. Aku pegang rambutnya, tarik lebih dekat. "Lebih dalam... ahh..." Suara desahanku memenuhi ruangan, dicampur suara hujan di luar. Orgasme kedua lebih kuat, gelombang kenikmatan yang bikin kakiku lemas.

Sekarang giliranku membalas. Aku dorong dia duduk, turun ke lutut. Celananya kubuka, penisnya melompat keluar – panjang, tebal, vena-vena menonjol, kepalanya mengkilap dari precum. Aku pegang dengan tangan, gosok dari pangkal ke ujung, rasanya panas dan keras. "Lin... enak..." desahnya. Aku masukkan ke mulutku, hisap pelan dulu, lidahku main di kepalanya, rasanya asin-manis. Kepalaku gerak naik turun, ambil lebih dalam sampai hampir seluruhnya. Tanganku gosok bola-bolanya yang berat, dia pegang rambutku lembut, mendesah nama aku berulang.

Aku tak tahan lagi. "Rio, aku mau lo sekarang," kataku, naik ke pangkuannya. Penisnya menyentuh pintu masukku, aku turun pelan, rasakan dia meregangkanku. "Ahh... gede banget," desahku saat masuk seluruhnya. Kami diam sebentar, menikmati kepenuhan itu. Lalu aku mulai gerak, naik turun lambat, pinggulku berputar. Tangannya pegang pinggangku, bantu ritme. Setiap dorongan menyentuh dalamku, bikin sensasi meledak. "Lebih cepat, Lin..." pintanya. Aku percepat, benturan tubuh kami berirama, keringat bercucuran. Dia balikkan posisi, sekarang dia di atas, dorong lebih keras, lebih dalam. Kakinya aku angkat ke bahunya, sudutnya bikin penisnya menyentuh spot baru yang bikin aku berteriak. "Rio... aku mau keluar lagi..." Orgasme ketiga datang bersamaan dengan miliknya – dia semprot di dalamku, hangat dan deras, sementara tubuhku bergetar hebat.

Kami berbaring di sofa, napas tersengal, pelukan hangat. Hujan masih deras di luar. "Ini luar biasa, Lin," bisiknya, cium keningku. Aku tersenyum, tapi tiba-tiba pintu apartemen berbunyi ketukan. Rio kaget, bangun buru-buru. "Siapa?" tanyanya. Suara perempuan dari luar: "Rio, ini aku, Mia. Kita janji ketemu malam ini kan?" Mia? Teman sekelas kami yang lain? Hati aku langsung dingin. Apa Rio punya hubungan rahasia dengan dia? Aku diam mematung, pikiran berputar. Malam ini baru permulaan, tapi apa yang akan terjadi selanjutnya?

Posting Komentar

0 Komentar
Posting Komentar (0)
To Top