Aku, Rina, sudah berteman dengan Andi selama hampir sepuluh tahun. Kami bertemu di kampus dulu, saat sama-sama jadi mahasiswa baru yang kebingungan mencari ruang kelas. Andi selalu jadi teman curhat terbaikku, orang yang bisa kutelpon tengah malam saat lagi galau soal pekerjaan atau hubungan yang kandas. Dia ganteng sih, tinggi, berotot dari rutinitas gym-nya, tapi bagiku dia cuma Andi, sahabat yang selalu ada. Tak pernah terlintas di pikiranku untuk melihat dia lebih dari itu. Sampai malam itu...
Hari itu adalah ulang tahun Andi yang ke-30. Kami merayakannya di apartemenku, karena dia bilang malas keluar malam-malam. Aku masak makanan favoritnya, ayam goreng sambal matah, dan kami buka botol wine merah yang kubeli khusus. Kami duduk di sofa, tertawa ngobrolin kenangan lama. "Eh, Rin, lo inget nggak waktu kita nyasar di gunung pas camping dulu?" tanyanya sambil nyengir. Aku ketawa, "Iya, lo yang salah baca peta! Untung kita selamat." Suasana santai, seperti biasa. Tapi entah kenapa, malam itu mata Andi terlihat berbeda. Lebih intens, lebih... hangat.
Wine mulai berpengaruh. Aku merasa tubuhku rileks, pipiku memerah. Andi duduk lebih dekat, bahunya menyentuh bahuku. "Rin, lo tau nggak, selama ini gue selalu ngerasa lo spesial," katanya pelan. Aku menoleh, kaget tapi penasaran. "Spesial gimana?" tanyaku, suaraku agak bergetar. Dia tersenyum, tangannya menyentuh pipiku lembut. "Spesial yang bikin gue pengen lebih dari teman." Sebelum aku bisa bereaksi, bibirnya sudah menyentuh bibirku. Ciuman pertamanya lembut, tapi cepat jadi lebih dalam, lidahnya menari dengan lidahku, membuatku kehilangan napas. Aku tak menolak. Malah, aku balas ciumannya, tanganku memeluk lehernya.
Kami berciuman lama, tangan Andi mulai menjelajah. Dia menyentuh punggungku, lalu turun ke pinggang, menarikku lebih dekat. Aku merasakan panas tubuhnya, aroma cologne-nya yang maskulin bercampur keringat tipis. "Andi..." gumamku di sela ciuman. Dia berhenti sejenak, matanya menatapku penuh hasrat. "Kita lanjut?" tanyanya, suaranya serak. Aku mengangguk, tanpa ragu. Ini terasa benar, seperti puzzle yang akhirnya pas.
Dia angkat aku ke kamar tidur, meletakkanku di kasur dengan lembut. Pakaian kami lepas satu per satu. Aku lihat tubuhnya yang telanjang untuk pertama kali – dada bidang, perut six-pack, dan... oh, penisnya yang sudah tegang, panjang dan tebal, membuatku menelan ludah. Dia mulai dengan mencium leherku, turun ke dada. Bibirnya menyentuh putingku, mengisap pelan lalu lebih kuat, giginya menggigit ringan sampai aku mendesah. "Ahh... Andi..." Tangannya menyentuh selangkanganku, jarinya menyusuri bibir vaginaku yang sudah basah. Dia gosok klitorisku dengan ibu jari, lingkaran-lingkaran kecil yang bikin tubuhku bergetar. Aku meraih rambutnya, menariknya lebih dekat.
"Andi, masukin jari lo..." pintaku, suaraku parau. Dia tersenyum nakal, memasukkan satu jari ke dalamku, lalu dua. Jarinya bergerak maju mundur, menyentuh titik sensitif di dalam, membuatku menggelinjang. Cairanku mengalir deras, membasahi tangannya. "Lo basah banget, Rin," bisiknya di telingaku. Aku tak bisa jawab, hanya mendesah saat dia tambah kecepatan. Tubuhku tegang, orgasme pertama datang seperti gelombang, membuatku berteriak nama dia.
Tapi Andi tak berhenti. Dia turun, bibirnya menyentuh vaginaku. Lidahnya menjilat klitorisku, mengisapnya seperti permen, sementara jarinya masih di dalam. Rasanya luar biasa – hangat, basah, dan penuh tekanan yang pas. Aku angkat pinggulku, mendorong wajahnya lebih dalam. "Terus... jangan berhenti..." desahku. Dia tambah intens, lidahnya berputar-putar, gigit kecil yang bikin aku hampir gila. Orgasme kedua datang lebih kuat, tubuhku kejang-kejang, tanganku mencengkeram seprai.
Sekarang giliranku. Aku dorong dia telentang, naik ke atasnya. Penisnya tegang di depan wajahku, aku pegang dengan tangan, gosok pelan dari pangkal ke ujung. Dia mendesah, "Rin... enak..." Aku masukkan ke mulutku, hisap pelan dulu, lalu lebih dalam. Lidahku main di kepalanya, rasanya asin-manis dari precum-nya. Aku gerakkan kepalaku naik turun, tanganku gosok bola-bolanya. Andi pegang rambutku, tapi tak memaksa, hanya menikmati. "Lo jago banget," katanya, suaranya bergetar.
Akhirnya, aku tak tahan. "Andi, aku mau lo di dalamku," kataku. Dia balikkan posisi, aku di bawahnya. Penisnya menyentuh pintu masukku, gosok dulu untuk basahi, lalu dorong pelan. Ukuran dia besar, aku rasakan penuh saat masuk setengah, lalu seluruhnya. "Ahh... gede banget," desahku. Dia mulai gerak, maju mundur lambat dulu, biar aku terbiasa. Setiap dorongan menyentuh dinding dalamku, bikin sensasi listrik ke seluruh tubuh. Aku peluk punggungnya, kuku-kukuku menggores kulitnya.
Kecepatannya bertambah. Kami bergerak serasi, pinggulku naik turun menyambutnya. Keringat kami bercampur, suara desahan dan benturan tubuh memenuhi kamar. "Lebih cepat, Andi..." pintaku. Dia patuh, dorong lebih keras, lebih dalam. Aku rasakan orgasme ketiga mendekat, tubuhku mengejang. "Aku mau keluar lagi..." jeritku. Dia bisik, "Bersama yuk." Beberapa dorongan lagi, kami orgasme bareng – dia semprot di dalamku, hangat dan banyak, sementara aku bergetar hebat.
Kami berbaring, napas tersengal. Andi peluk aku dari belakang, cium keningku. "Ini baru awal, Rin," katanya pelan. Aku tersenyum, tapi tiba-tiba ponselnya berbunyi. Dia lihat layar, wajahnya berubah. "Siapa?" tanyaku. Dia ragu, "Ex gue... bilang ada yang penting." Aku diam, hati mulai gelisah. Apa ini berarti ada rahasia lain yang belum terungkap? Malam itu berakhir dengan pelukan, tapi pikiranku melayang – apa yang akan terjadi besok?

.jpg)