Malam yang Tak Direncanakan

0



Kami sudah berteman sejak kuliah. Enam orang, selalu bareng, selalu kompak. Namaku Dito. Di antara kami ada Naya — cewek yang paling pendiam di sirkel, tapi matanya selalu punya cara bicara yang lain. Badannya proporsional, pinggang kecil, bokong bulat penuh, dan payudara yang selalu terlihat menonjol meski dia paling sering pakai hoodie oversized. Aku tahu dia bukan tipe yang suka pamer, tapi justru itu yang bikin orang penasaran.

Malam itu kami lagi nongkrong di apartemennya, yang paling besar di antara kami semua. Yang lain sudah pulang duluan karena besok Senin. Tinggal aku sama Naya yang masih duduk di sofa, minum sisa bir, main playlist lo-fi yang pelan. Hujan deras di luar, suara air membentur kaca jendela besar.

“Lo nggak capek apa, Dit?” tanyanya sambil memeluk bantal, kakinya naik ke sofa. Celana pendeknya naik sedikit, memperlihatkan paha mulus yang putih.

“Capek sih. Tapi males gerak,” jawabku sambil nyender di sofa, kepala agak miring menghadap dia.

Dia tertawa kecil. “Lo tuh tipe yang keliatan cuek, tapi matanya nggak bisa bohong.”

Aku diam. Jantung mulai berdetak lebih kencang.

Dia bangkit, berdiri di depanku, lalu tiba-tiba duduk di pangkuanku menghadap langsung. Bukan pelan-pelan, langsung saja. Kedua tangannya memegang bahuku.

“Kalau aku bilang aku pengen coba sesuatu sama lo malam ini… lo bakal takut?” suaranya pelan, tapi ada getar nakal di ujung kalimat.

Aku menatap matanya. “Takut keabisan napas kali.”

Dia tersenyum tipis, lalu mendekatkan wajahnya. Bibir kami bertemu. Awalnya cuma sentuhan ringan, tapi detik berikutnya sudah saling melahap. Lidahnya hangat, gerakannya lapar. Aku memeluk pinggangnya erat, merasakan lekuk tubuhnya yang lembut tapi kenyal.

Dia mundur sedikit, menarik hoodie-nya ke atas dan melemparnya sembarangan. Bra hitam renda tipis membungkus payudaranya yang penuh. Putingnya sudah mengeras menembus kain. Aku langsung menarik tali bra-nya ke bawah, membebaskan kedua payudaranya yang bulat sempurna. Warna putingnya cokelat muda, kecil, tapi sangat sensitif. Begitu jempolku menyentuh, dia langsung mendesah pelan.

“Sentuh lebih keras…” pintanya.

Aku meremas keduanya, menjepit puting di antara jari, memilin pelan. Dia menggelinjang, kepalanya terdongak ke belakang. Aku menunduk, menangkap salah satu puting dengan mulut. Menjilat, mengisap, menggigit ringan. Dia menggenggam rambutku kuat, menekan kepalaku lebih dalam.

“Gila… enak banget…” erangnya sambil menggoyang pinggulnya pelan di atas selangkanganku. Celanaku sudah sesak.

Dia turun dari pangkuanku, berlutut di lantai. Matanya menatap tonjolan di celanaku dengan tatapan lapar. Dengan gerakan cepat dia membuka ikat pinggangku, menurunkan resleting, dan menarik celanaku bersama boxer sampai ke bawah lutut.

Batangku sudah tegak keras, urat-uratnya menonjol, ujungnya mengkilap karena cairan pra-ejakulasi. Naya menatapnya beberapa detik, lalu menjilat bibir bawahnya.

“Gede juga ya…” gumamnya sebelum mulutnya langsung menelan kepalanya.

Hangat. Basah. Lidahnya berputar di sekitar kepala penis, menjilat bagian bawah yang paling sensitif. Dia menurunkan kepalanya perlahan sampai hampir separuh batangku masuk ke tenggorokannya. Aku mengerang keras, tanganku menarik rambutnya pelan. Dia mulai menggerakkan kepala naik-turun, mulutnya membuat bunyi basah yang sangat menggairahkan. Sesekali dia menarik kepalanya, menjilat seluruh batang dari bawah sampai ujung, lalu menghisap kepalanya kuat-kuat seperti mau menyedot semua yang ada di dalam.

“Ya Tuhan, Nay… lo jago banget…” desahku.

Dia tersenyum sambil masih mengulum, lalu bangkit. Dia menurunkan celana pendek dan celana dalamnya sekaligus. Vaginanya sudah basah sekali — bibir luarnya mengkilap, klitorisnya membengkak kecil. Dia naik lagi ke pangkuanku, kali ini langsung mengarahkan batangku ke pintu masuknya.

“Pelan dulu ya…” katanya sambil menurunkan pinggulnya perlahan.

Kepalaku masuk, terasa sangat sempit dan panas. Dia menggigit bibir bawahnya, matanya setengah terpejam. Aku memegang pinggulnya, membantunya turun pelan-pelan sampai akhirnya seluruh batangku tenggelam di dalam tubuhnya. Dinding dalamnya berdenyut kuat, memelukku erat.

“Penuh… banget…” erangnya sambil diam beberapa detik, menyesuaikan diri.

Lalu dia mulai bergerak. Naik-turun pelan dulu, tapi semakin lama semakin cepat. Payudaranya bergoyang-goyang di depan wajahku. Aku menangkap salah satunya dengan mulut, mengisap kuat sambil tanganku meremas bokongnya yang bulat dan kenyal. Dia mempercepat gerakan, pinggulnya berputar-putar, menggiling klitorisnya ke pangkal batangku setiap kali turun.

“Lebih cepat, Dit… aku mau lebih keras…” pintanya dengan suara parau.

Aku mengangkat pinggulku, menyambut setiap turunannya dengan dorongan kuat dari bawah. Suara benturan kulit dan suara basah dari vaginanya yang semakin melimpah memenuhi ruangan. Dia mulai mengerang lebih keras, tidak lagi menahan suara.

“Aduh… ahh… gitu… tepat di situ… jangan berhenti…” jeritnya.

Aku balikkan posisi. Sekarang dia telentang di sofa, kakiku diangkat tinggi. Aku masuk lagi, kali ini lebih dalam. Setiap dorongan membuat payudaranya berguncang hebat. Aku menekan klitorisnya dengan jempol sambil terus menghantam dengan ritme cepat dan dalam.

“Ya ampun… aku mau keluar… Dit… aku mau keluar!” teriaknya.

Tubuhnya menegang. Vaginanya berkontraksi kuat, memeras batangku berulang-ulang. Dia orgasme dengan sangat hebat, cairannya menyembur kecil-kecil, membasahi perutku dan sofa. Aku tidak berhenti, terus mendorong di tengah kontraksi itu, membuat orgasmenya berlarut-larut.

“Di dalam… keluarin di dalam aku…” pintanya dengan suara lemah tapi penuh nafsu.

Itu pemicu terakhir. Aku mendorong sekuat tenaga beberapa kali lagi, lalu meledak di dalamnya. Cairan panas menyemprot berulang-ulang, mengisi ruang sempit di dalam tubuhnya. Kami sama-sama mengerang panjang, tubuh saling menempel erat, keringat bercampur.

Beberapa menit kami diam, masih saling memeluk, napas masih tersengal.

Dia akhirnya berbisik di telingaku,

“Besok temen-temen nanya kenapa kita berdua keliatan capek… kita bilang apa?”

Aku tertawa pelan. “Bilang aja kita begadang ngerjain tugas kelompok.”

Dia mencium bibirku lagi, kali ini lembut.

“Tapi tugasnya belum selesai,” katanya sambil tersenyum nakal. “Masih ada ronde dua, kan?”

Malam itu baru permulaan. Sirkel tetap utuh di depan orang lain. Tapi di antara kami berdua, ada rahasia yang panas, basah, dan sangat membuat ketagihan.

Posting Komentar

0 Komentar
Posting Komentar (0)
To Top