Jejak yang Tak Pernah Hilang

0



Kami dulu tetangga se-RT, rumah berdempetan, pintu belakang saling berhadapan. Namanya Salsa. Dari SD sampai SMA kami hampir setiap hari ketemu—main petak umpet, sepedaan keliling komplek, curi-curi nonton sinetron bareng di ruang tamu salah satu rumah. Dia cewek yang selalu bikin orang ingat karena tawanya renyah dan matanya yang besar, selalu terlihat seperti sedang menyimpan rahasia kecil.

Waktu berlalu. Sekarang kami sama-sama sudah berkeluarga. Aku punya istri dan dua anak kecil. Dia punya suami dan satu anak perempuan. Kami pindah ke kota berbeda, tapi karena pekerjaan, setahun lalu aku sering bolak-balik ke kota asal untuk urusan proyek. Dan entah bagaimana, kami ketemu lagi—awalnya cuma sapa-sapa di grup alumni SD, lalu chat pribadi, lalu akhirnya janjian ngopi “sekadar nostalgia”.

Sore itu kami bertemu di kafe kecil di pinggir danau buatan, tempat yang dulu sering kami lewati naik sepeda. Dia datang dengan dress sederhana warna krem, rambut panjangnya sekarang digerai, masih sama seperti dulu tapi lebih terawat. Tubuhnya lebih berisi sekarang—payudara lebih penuh, pinggul lebih melengkung, tapi tetap proporsional dan sangat… menggoda.

Kami ngobrol panjang. Tentang anak-anak, tentang suami-istri, tentang kerjaan. Tapi di antara semua itu, ada jeda-jeda diam yang terasa berat. Tatapan kami terlalu lama bertemu. Senyumnya terlalu lama tertahan. Jari-jarinya terlalu sering menyentuh gelas kopi dengan gerakan pelan, seperti sedang mengingat sesuatu.

“Masih inget nggak dulu kita pernah janji… kalau besar nanti kita bakal nikah?” tanyanya tiba-tiba, setengah bercanda, setengah serius.

Aku tertawa kecil. “Inget. Kamu bilang aku boleh pegang tanganmu tiap hari.”

Dia menunduk, pipinya merona. “Dan kamu bilang… nanti kalau udah gede, kamu mau cium aku beneran.”

Udara di antara kami mendadak panas.

Malam itu, setelah kafe tutup, dia bilang mobilnya mogok di parkiran basement gedung sebelah. Aku antar dia ke sana. Ternyata mobilnya baik-baik saja. Dia cuma butuh alasan supaya kami bisa berdua lebih lama.

Di dalam mobilnya yang gelap, hanya diterangi lampu taman dari luar, dia mematikan mesin. Kami diam beberapa detik.

Lalu dia berpaling padaku.

“Kalau cuma sekali… boleh nggak?”

Aku tidak menjawab dengan kata-kata.

Aku menariknya pelan ke kursi belakang. Kami berciuman seperti orang yang sudah menahan terlalu lama. Bibirnya lembut, hangat, lidahnya langsung mencari lidahku dengan lapar. Aku mencium lehernya, mencium bekas parfum yang samar, mencium kulit dadanya yang terbuka sedikit karena dress-nya sudah agak turun.

Dia menarik resleting belakang dress-nya sendiri. Kain itu melorot ke pinggang. Bra renda hitam membungkus payudaranya yang sekarang jauh lebih besar dari ingatanku dulu. Aku membukanya dengan satu tangan, membebaskan kedua payudara itu. Putingnya cokelat tua, sudah mengeras keras. Begitu mulutku menyentuh salah satunya, dia mendesah panjang, tangannya menekan kepalaku lebih dalam.

“Hisap lebih kuat… aku suka kalau digigit pelan…” bisiknya.

Aku menuruti. Menggigit ringan, menarik puting dengan bibir, lalu mengisap kuat sampai dia menggelinjang. Tangannya meraba ke selangkanganku, membuka ikat pinggangku dengan gerakan cepat. Begitu penis ku keluar, dia langsung menggenggamnya erat.

“Masih sama… besarnya…” gumamnya sambil mengocok pelan, jempolnya memainkan cairan di ujung.

Aku menurunkan celana dalamnya. Dia sudah sangat basah. Bibir vaginanya mengkilap, klitorisnya membengkak. Aku menggeser badannya supaya dia setengah berbaring di kursi belakang, kakinyalebar. Aku menjilatnya dulu—mulai dari paha dalam, naik perlahan, sampai akhirnya lidahku menyentuh klitorisnya. Dia langsung menjerit pelan, pinggulnya terangkat.

“Jangan cuma jilat… masukin jari juga…” pintanya.

Dua jari tengahku masuk mudah karena dia sudah sangat licin. Aku menggerakkan jari melengkung, mencari titik yang membuatnya paling gila. Dia menggeliat, napasnya tersengal, tangannya mencengkeram jok mobil.

“Aku mau kamu sekarang… aku nggak tahan…”

Aku naik ke atasnya. Ujung penis ku menyentuh pintu masuknya, menggosok-gosok dulu di klitorisnya sampai dia memohon lagi. Lalu aku dorong pelan. Kepalaku masuk, terasa sangat sempit meskipun dia sudah sangat basah. Dia menggigit bibir bawahnya, matanya setengah terpejam.

“Penuh… ya Tuhan… lama banget aku nggak ngerasain beginian…”

Aku dorong lagi sampai habis. Dinding dalamnya memelukku erat, berdenyut-denyut. Kami diam beberapa detik, hanya merasakan satu sama lain. Lalu aku mulai bergerak—keluar-masuk pelan dulu, memberi waktu dia menyesuaikan.

Semakin lama semakin cepat. Dia melingkarkan kakinya di pinggangku, menarikku lebih dalam setiap dorongan. Payudaranya bergoyang-goyang hebat setiap aku menghantam. Aku menangkap salah satu puting dengan mulut, mengisap kuat sambil terus menggempur.

“Lebih keras… aku mau lebih keras…” erangnya.

Aku mempercepat, menghantam dengan penuh tenaga. Suara benturan kulit dan suara basah dari vaginanya yang melimpah memenuhi mobil. Dia mulai tidak bisa menahan suara lagi.

“Aduh… ahhh… tepat di situ… jangan berhenti… aku mau keluar… aku mau keluar bareng kamu…”

Aku merasakan vaginanya mulai berkontraksi kuat. Dinding dalamnya memeras penis ku berulang-ulang. Dia orgasme dengan hebat—tubuhnya menegang, kakinya gemetar, cairannya menyembur kecil-kecil membasahi jok dan paha kami berdua. Aku tidak berhenti, terus mendorong di tengah orgasmenya, membuat gelombang itu berlarut-larut.

“Di dalam… keluarin di dalam aku…” pintanya dengan suara hampir putus asa.

Itu yang terakhir aku tahan. Aku dorong beberapa kali lagi sekuat tenaga, lalu meledak di dalamnya. Cairan panas menyemprot berulang-ulang, mengisi ruang yang sudah penuh. Kami berdua mengerang panjang, tubuh saling menempel erat, keringat bercampur, napas tersengal-sengal.

Beberapa menit kami diam begitu. Masih di dalam satu sama lain. Tidak ada kata-kata.

Akhirnya dia berbisik, suaranya serak,

“Kita nggak boleh ketemu lagi kayak gini… tapi aku tahu kita bakal ketemu lagi.”

Aku hanya mengangguk pelan.

Kami tahu. Jejak masa kecil itu tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk terbakar lagi.

Posting Komentar

0 Komentar
Posting Komentar (0)
To Top